Cara Unik Pembuatan Clorot

Cara Unik Pembuatan Clorot

Jajanmakanan.com – Clorot merupakan jajanan khas Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Selain legit harum, jajanan ini juga punya kemasan yang unik dari daun kelapa. Bentuk, isi dan rasanya yang manis gurih dan legit membuat pecinta kuliner merasa ketagihan dengan jajanan ndeso yang bernama clorot. Nama clorot yang aneh bagi sebagian besar orang justru semakin menambah penasaran seperti apa sebenarnya clorot itu. Clorot biasanya banyak dijajakan di pasar tradisional.

Salah satu penjual clorot, Ani Widyanti (40) warga RT 02/ RW 04, Kelurahan Cangkrep Kidul, Kecamatan Purworejo menuturkan bahwa clorot sudah ada sejak zaman nenek moyang. Bahan utama untuk membuat makanan tradisional ini berupa tepung dari beras. Dahulu, tepung beras dibuat dengan cara menumbuk beras menggunakan alat tradisional masyarakat jawa yakni lesung dan alu. Lesung terbuat dari kayu berbentuk seperti perahu berukuran kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter dan kedalaman sekitar 40 cm, sedangkan alu adalah kayu berbentuk bulat dan panjang berdiameter 7 cm yang digenggam untuk menumbuk beras di dalam lesung.

Ani ketika ditemui detikcom di kediamannya, Sabtu (12/10/2019) pagi. Ani pun kemudian membeberkan bagaimana cara membuat clorot. Ia sendiri sudah puluhan tahun membuat dan menjual clorot lantaran sejak kecil sudah ikut membantu orang tuanya membuat clorot, hingga sekarang ia pun membuka usaha sendiri. Clorot terbuat dari tepung beras ditambah sedikit tepung ketela atau pati kanji, garam secukupnya, serta gula merah dan bisa ditambah pewangi berupa vanili atau daun pandan. Cara membuatnya pun cukup sederhana. Pertama, campurkan tepung beras dengan pati kanji dan diberi air sedikit demi sedikit sambil diremas-remas dengan menggunakan tangan hingga adonan mengental. Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam panci dan diberi garam serta vanili secukupnya sambil dicampur dengan air. Sebagai pemanis, tak lupa gula merah yang telah dicairkan juga dituangkan perlahan sambil adonan terus diaduk. Setelah menjadi adonan cair namun kental, maka adonan pun siap dimasukkan ke dalam selongsong yang terbuat dari daun kelapa atau janur kuning.

Uniknya, janur pembungkus clorot ini diulin sedemikian rupa sehinga menyerupai terompet kecil. Selain bentuknya yang unik, jajanan ndeso ini memiliki cara khusus saat hendak memakannya yang juga tak kalah unik. Kebanyakan orang awam akan membuka janur sebagai selongsong clorot dari atas seperti makan es cream. Namun cara yang benar sebelum menikmati jajan khas Purworejo ini adalah dengan menusuk bagian bawah clorot dengan menggunakan satu jari. Bentuknya yang bulat panjang berwarna cokelat lembek dan kenyal, membuat siapa saja akan tersenyum sebelum memakan clorot yang perlahan keluar dari cangkangnya setelah ditusuk dengan satu jari. Rasa penasaran pun terbayar ketika clorot perlahan mulai menjulur keluar bercampur sensasi unik yang semakin menambah nikmatnya gigitan pertama. Sentra pembuatan clorot sendiri awalnya berasal dari Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Purworejo. Selain menjaga dan melestarikan makanan khas Purworejo, berjualan clorot juga bisa untuk menambah penghasilan. Dalam sehari, Ani yang dibantu oleh 5 orang karyawannya itu mengaku bisa menghabiskan tepung beras minimal 8 kilogram. Namun ketika banyak pesanan, maka jumlah produksi pun juga akan meningkat. Dengan harga yang murah meriah, tak heran jika clorot buatan Ani selalu ludes. Harga per ikat dengan isi 10 biji, para pembeli hanya cukup membayar Rp 8.000 saja. Selain untuk dimakan sendiri, clorot juga bisa dijadikan oleh-oleh bagi siapa saja yang berkunjung ke Purworejo untuk dibawa pulang. Tak hanya digemari masyarakat Purworejo, kuliner unik yang hanya ada di Purworejo ini bahkan sudah merambah kota lain seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Malang, Madiun, Bali hingga Brunei Darusalam. Jajanan ini hanya bisa bertahan dua hari karena tanpa menggunakan bahan pengawet.

Baca juga : Aneka Jajanan Pasar Ini Cocok Untuk Ngemil

Mereka antusias menyaksikan demo masak dan peluncuran buku berjudul Masak Bareng Nick! Aneka Jajanan Pasar Klasik dan Variannya oleh selebgram terkenal Australia, Nick. Nick yang juga seorang Youtuber itu datang bersama istri dan dua orang asistennya. Dia mendemonstrasikan dua jenis jajanan, Kue Ku dan Lumpia Udang Asam Manis. Nick berkata, semua bahan untuk membuat dua jajanan itu maupun 12 jenis panganan yang ada dalam bukunya dapat dibeli di toko Indonesia maupun Asia di Australia. Sebagai pria yang lahir dan besar di Sydney, Nick mempunyai hobi memasak, dan selalu ingin berbagai ilmu tentang masakan maupun budaya Indonesia. Dia mengatakan ingin membagi ilmu tentang kuliner tidak hanya yang sudah dikenal secara umum seperti Klepon maupun Nasi Goreng. Kegiatan yang bertujuan mempromosikan kuliner, khususnya jajanan khas Indonesia di Australia itu diselenggarakan atas kerja sama beberapa pihak. Di antaranya KJRI Sydney, Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Sydney, Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Sydney, Indonesian Business Council Sydney, maupun House of Indonesia. Konsul Jenderal RI di Sydney Heru Hartanto Subolo yang membuka kegiatan itu menjelaskan mengapa tema yang dipilih adalah kuliner.

Hati-Hati Jajanan Anak Sekolah, Berbahaya! Jajanan anak sekolah perlu lebih diperhatikan keamanannya ka­rena berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sekolah. Makanan yang sering menjadi sumber keracunan adalah ma­kanan ringan dan jajanan, karena biasanya makanan ini merupakan hasil produksi industri makanan rumahan yang kurang dapat menja­min kualitas produk olahannya. Makanan jajan anak sekolah cenderung menggunakan bahan pengawet, pewarna, aroma, penyedap, dan pemanis, sehingga meng­ancam kesehatan anak. Disamping masih rendahnya pengetahuan pa­ngan dan tanggung jawab produsen serta rendahnya pengetahuan dan kepedulian konsumen tentang mutu dan keamanan pangan. Menurut penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) tahun 2004, sebagian makanan jajanan anak sekolah itu mengandung bahan kimia berbahaya. Dari 163 sampel jajanan anak yang diuji di 10 provinsi, sebanyak 80 sampel atau 50 persennya tak memenuhi syarat mutu dan keamanan. Kebanyakan jajanan yang bermasalah itu mengandung boraks, formalin, zat pengawet, zat perwarna berbahaya, serta tak mengandung garam beryodium. Sedikitnya 19.465 jenis ma­kanan dijadikan sampel pengujian tersebut.