Awas! Jajanan Anak Sekolah Tercemar Mikrobiologi

Awas! Jajanan Anak Sekolah Tercemar Mikrobiologi

Jajanmakanan.com – Laporan Aksi Nasional PJAS 2014 menyebutkan, 23,82% pangan jajan anak sekolah yang diuji sampel BPOM masih tidak memenuhi syarat akibat cemaran mikrobiologi. Fakta juga menunjukkan bahwa 40% anak masih belum membiasakan sarapan. Hal ini semakin mendorong anak untuk jajan di sekolah. “Kondisi tersebut perlu diatasi melalui upaya seluruh masyarakat sekolah untuk memperbaiki pola makan, termasuk jajan yang sehat, aman, dan bergizi,” ungkap Dr Ir Sri Anna Marliyati MAS, Sekretaris Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB dalam acara Media Program bertema “Warung Anak Sehat (WAS)” yang diadakan Sarihusada. Berhenti Menyebut Anak Anda Pintar, Ini Alasannya! Dia melanjutkan, masih banyak anak sekolah yang mengonsumsi makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi gula dan garam, serta kurangnya konsumsi buah dan sayur.

Hal ini memicu semakin meningkatnya obesitas di kalangan anak-anak. Sebaliknya, banyak pula anak yang mengonsumsi pangan jajanan yang hanya mengandung karbohidrat sehingga asupan gizinya tidak tercukupi. Guna mendukung upaya pemerintah memperbaiki status gizi anak, Sarihusada mengadakan program WAS yang memiliki target memperbaiki kebiasaan anak sekolah dalam mengonsumsi makanan/jajanan bersih dan sehat di lingkungan sekolah. “Dalam kesehariannya, anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah.

Untuk itu, intervensi makanan/jajanan sehat di sekolah amat penting. Kami melihat, bila status gizi anak baik, anak dapat mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, dan sosialemosional yang optimal. Sesuai misi, kami menciptakan Anak Generasi Maju,” beber Talitha Andini, WAS Project Manager Sarihusada. Program WAS telah menjangkau 350 SD di empat kota di Indonesia, yaitu Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Ambon. Lebih jauh, anak usia 5-12 tahun membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup atau seimbang untuk konsentrasi belajar. Asupan gizi yang tidak tercukupi akan menimbulkan risiko, antara lain anemia yang dapat menurunkan daya tahan dan konsentrasi pada anak. Selain itu, anak menjadi rentan terhadap berbagai penyakit, baik menular maupun tidak menular. Gangguan kesehatan tersebut dapat memengaruhi produktivitas anak di sekolah yang kelak dapat menentukan kualitas hidupnya, bahkan pendapatan anak kala dewasa. Maraknya penggunaan kandungan bahan tambahan pangan dalam jajanan anak membuat orang tua harus lebih memperhatikan kebiasaan jajan anak. Terlebih, jajanan yang tidak sehat berisiko membayakan kesehatan. Tidak sedikit jajanan anak yang beredar luas di masyarakat mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang berbahaya. Seperti pewarna sintesis dan pengawet berlebih yang melewati batas yang diperbolehkan BPOM.

Indonesia merupakan sebuah negara yang memilih keanekaragaman budaya, kekayaan alam , keramahan dan kuliner. Berbagai macam makanan tradisonal yang ada , kota jawa tengah juga memiliki makanan khas yang wajib di coba apa sajakah itu ? Pipis kopyor adalah makanan ringan khas Jawa Tengah yang berbahan dasar kelapa muda, roti tawar, dan santan. Sebenarnya ada beberapa macam versi Pipis Kopyor, tergantung daerahnya. Ada yang berbentuk padat, ada pula yang berkuah santan menyegarkan. Isiannya pun bisa beragam, ada yang sekedar memakai roti tawar dan kelapa muda, tapi ada pula yang menambahkan isian lain seperti pisang, kismis, atau sagu. Pipis Kopyor banyak digemari karena rasanya yang manis-gurih dan menyegarkan (terutama yang berkuah), teksturnya pun lembut ketika disantap. Rasa manisnya tidak berlebihan sehingga tidak mudah membuat enek. Di saat bulan Ramadhan, Pipis Kopyor sangat cocok untuk dijadikan hidangan berbuka puasa. Sayangnya, makanan tradisional ini tidak mudah ditemukan di sembarang tempat. Jika beruntung anda bisa bertemu dengan penjualnya di pasar-pasar tradisional ataupun toko-toko kue.

Baca juga : 4 Resep Jajanan Pasar Yang Mudah Dibuat Di Rumah

Sensasi manisnya juga ikut menggeliat di lidah. Menariknya ternyata kue ini juga memiliki sebutan yang cukup beragam dibeberapa daerah walaupun pada dasarnya sama saja, karena ada yang menyebutnya sebagai kue abuk mutiara, kemudian ada juga yang menganggapnya sebagai kue bongko mutiara dan lain-lain. Salah satu ciri khas dari kue ini adalah dibungkus dengan daun pisang dengan berbagai bentuk, ada yang berbentuk prisma segitiga, kemudian ada juga yang berbentuk persegi, kerucut dan lain-lain. Bongko mento adalah salah satu sajian asal keraton jepara. Sajian yang dibungus dengan daun pisang ini berisi dadar yang telah diisi dengan tumisan suwiran dada ayam yang dicampur dengan jamur kuping, soun dan santan. Kudapan ini bisa menjadi pilihan snack gurih untuk arisan atau pesta kecil di rumah Anda. Makanan ini biasanya di sajikan pada saat pernikahan saja, tetapi jika anda beruntung anda bisa mencicipi makanan satu ini di pasar tradisional. Getuk lindri adalah nama makanan tradisional yang banyak disukai oleh semua orang disetiap kalangan, dari mulai anak-anak sampai orang tua.

Makanan ini terbuat dari bahan dasar singkong yang direbus kemudian dihaluskan lalu dicampur dengan garam dan gula pasir. Getuk Lindri biasanya disajikan dengan tabutan kelapa parut sehingga menjadikan makanan semakin enak dan gurih. Kue Cetot biasa di kenal oleh masyarakat jawa sebagai cenil, Makanan ini merupakan jajanan pasar yang memiliki tektur krnyal dan memiliki warna yang beragam. Makanan ini memiliki bentuk lonjong dan memiliki rasa yang manis dan gurih jika di padukan dengan parutan kelapa dan gula. Biasanya makanan ini di sajikan dengan ketan hitam , getuk ,klepon dan di siram gula jawa atau hanya dengan gula pasir . Makanan ini masih bisa di temukan di pasar- pasar tradisional di daerah jawa tengah.

4 Resep Jajanan Pasar Yang Mudah Dibuat Di Rumah

4 Resep Jajanan Pasar Yang Mudah Dibuat Di Rumah

Jajanmakanan.com – Indonesia kaya akan beraneka ragam makanan daerah, termasuk kue-kue tradisional. Rasanya yang lezat dan khas membuat kue-kue tersebut pas sekali di lidah orang Indonesia. Tidak hanya itu, kue tradisional ini juga mudah dicari, bahkan bisa dengan mudah Anda temui di toko yang menjual berbagai macam kue, supermarket, hingga pasar tradional. Tak heran, banyak orang menyebutnya sebagai jajanan pasar. Tertarik ingin coba membuatnya sendiri di rumah? Tenang, cara membuatnya tidak sulit, kok. Dengan berbekal beberapa resep jajanan pasar berikut ini, Anda bisa menyajikan camilan sehat khas Indonesia. Salah satu jajanan pasar yang banyak diburu orang adalah kue pukis.

Kue ini biasanya disajikan dengan topping keju atau meses, Anda hanya tinggal menyesuaikannya dengan selera dan keinginan. 1. Ayak tepung terigu, lalu campur dengan ragi instan dan aduk hingga rata. 2. Kocok telur dan gula hingga kental dan mengembang. Kemudian masukkan campuran tepung terigu sedikit demi sedikit, aduk hingga tercampur rata. 3. Tambahkan santan sambil diaduk perlahan hingga rata, lalu diamkan selama 30 menit. 4. Panaskan cetakan kue pukis, oles dengan margarin. 5. Selanjutnya, tuangkan adonan kue pukis pada cetakan kira-kira setinggi ¾ cetakan.

6. Setelah bagian tepi kue pukis mulai matang, taburkan meses atau keju untuk topping. Kemudian biarkan hingga kue matang. 7. Angkat dan sajikan kue pukis selagi masih hangat. Bagi Anda pecinta olahan pisang, tentunya makanan yang satu ini akan masuk ke dalam daftar kue favorit Anda. Cara membuatnya pun tidak sulit sehingga cocok dijadikan teman untuk bersantai di sore hari. 1. Masak campuran tepung beras, sagu, gula putih, garam, dan vanili, aduk hingga rata. 2. Tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk secara perlahan, lalu masukkan daun pandan sambil terus diaduk hingga adonan mengental dan matang, angkat. 3. Ambil selembar daun pisang, beri satu sendok makan adonan tepung yang tadi telah matang. 4. Letakkan sepotong pisang ditengahnya, kemudian tutup lagi dengan adonan tepung. 5. Bungkus adonan nagasari dengan cara menekuk kedua ujung daun pisang. 6. Terakhir, kukus nagasari selama 30 menit sejak air mendidih. 7. Kue nagasari siap disajikan. Nah, kalau jajanan pasar yang ini cukup mengenyangkan. Pasalnya, kue lumpur terbuat dari bahan dasar kentang yang mengandung karbohidrat.

Tentunya, akan lebih nikmat lagi bila disajikan dengan secangkir teh hangat untuk dinikmati sambil bersantai. 1. Rebus air, gula putih, dan margarin hingga mendidih. 2. Tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit, sambil diaduk rata. Masak hingga semua adonan matang, lalu angkat. 3. Masukkan kentang yang sudah dihaluskan, gula pasir, dan vanili bubuk. Aduk hingga semua adonan tercampur rata. Kemudian tambahkan telur satu per satu, sambil dikocok dengan mixer secara perlahan. 4. Tuang santan sedikit demi sedikit, sambil dikocok pelan. 5. Panaskan cetakan kue lumpur, serta oleskan dengan margarin. Selanjutnya, tuang adonan hingga ¾ cetakan, tutup sebentar kurang lebih 10 menit. 6. Kemudian letakkan kismis di atasnya. Tutup kembali dan biarkan hingga kue matang. 7. Kue lumpur siap untuk disajikan. Ingin mencoba jajanan pasar yang berkuah? Sajian yang satu ini pas untuk Anda. Ya, putu mayang sering kali dihidangkan dengan tambahan kuah untuk menambah cita rasa khasnya. Penasaran ingin coba membuatnya sendiri? 1. Masak tepung beras, gula, garam, dan santan, di atas api kecil sambil diaduk hingga menggumpal. Angkat, lalu pindahkan ke dalam mangkuk besar. 2. Tambahkan tepung sagu sambil di aduk perlahan hingga tercampur rata. 3. Bagi adonan menjadi 3 bagian. Beri pewarna merah pada satu bagian, pewarna hijau di bagian yang lain, dan biarkan sisanya berwarna putih. 4. Masukkan ketiga adonan ke dalam cetakan putu mayang. Sambil ditekan saat diletakkan di atas daun pisang yang telah diolesi minyak goreng. 5. Kukus di atas api sedang selama kurang lebih 20 menit, angkat. 6. Buat saus dengan cara mencampurkan semua bahan saus, lalu diaduk hingga mendidih. 7. Sajikan putu mayang dengan sausnya selagi hangat.

Proses pemanggangan dengan gerabah itulah yang mengeluarkan aroma khas daun pisang bercampur dengan gurih beras ketan, parutan kelapa, manis gula jawa dan harum daun suji. Jangan ditanya. Manis-manis gurih serasa meleleh di dalam mulut ketika disantap. Kue kembang waru, kue yang merupakan legenda kuliner dari Kotagede ini bentuknya memang seperti bunga pohon waru yang banyak terdapat di Kotagede. Alkisah di masa penjajahan, penduduk pribumi menginginkan kue yang sering dibuat oleh para pendatang Inggris ataupun Belanda. Mereka kemudian mengadopsi resep kue dengan mencampur terigu, telur, susu, dan lemak nabati untuk membuat kue ini. Kini, kue kembang waru sudah sulit ditemukan meski di pasar tradisional sekalipun. Padahal dengan teksturnya yang empuk namun renyah, kue basah ini adalah pasangan serasi untuk menyesap teh hangat di sore hari. Satu lagi kue yang patut Anda coba, ukel manis. Kue kering yang sekilas masih satu keluarga dengan kue putri salju. Terbuat dari tepung terigu dan santan yang kemudian dibentuk menyerupai angka 8, digoreng, ditiriskan, lalu ditaburi dengan gula halus, memang membuat tampilan kue ini mirip dengan kue putri salju. Hanya saja berwarna kecoklatan. Semakin melangkah, semakin banyak Anda temukan jajan pasar di bagian tengah.

Di jalan pembatas antara los pasar yang memanjang dari utara ke selatan, ada banyak ibu-ibu bahkan simbah-simbah yang menjual jajan pasar beraneka ragam, diantaranya makanan tradisional khas Jogja seperti getuk dari Gunungkidul yang terbuat dari ketela dan geplak asal Bantul yang berwarna-warni, serta jadah manten. Bermacam jenis jenang (bubur kental; Jawa) seperti jenang sungsum berwarna putih yang terbuat dari tepung beras dan santan, jenang mutiara dengan bulatan kecil merah mudanya yang khas, juga jenang grendul dengan bulatan berwarna coklat sebesar kelereng yang kenyal. Tak hanya itu saja, masih ada jenang ketan, wajik, dan bintul (teksturnya mirip getuk namun terbuat dari ketan dan kacang koro) yang dicetak dalam mangkuk ukuran besar, kemudian ditumplek (dibalik; Jawa) di atas daun pisang atau jati, lalu diiris-iris sesuai keinginan pembeli. Dua jajanan favorit saya. Sego jagung (nasi jagung) yang dibulat kecil-kecil seukuran kepalan tangan dan grontol yaitu pipilan jagung yang dikukus hingga matang dan mlethek (merekah; Jawa) dan ditaburi dengan parutan kelapa.